Sore itu sabtu
26 Mei 2012 pukul 15.30. Waktu itu saya lagi istirahat kuliah sore untuk sholat
ashar. Waktu lewat di M. Djazman, puluhan siswa berbaju putih abu-abu yang
sudah dicorat-coret warna warni lewat di hadapan kami. Kaget saya, ada apa
gerangan para siswa ini. Ternyata baru sadar, hari itu adalah pengumuman
kelulusan Ujian Nasional (UN) serentak di seluruh Indonesia. Rona kebahagian
muncul di hadapan para siswa tersebut bak tentara yang baru saja memenangkan
perang besar melawan musuhnya selama ini. Dengan suara lantang “aku lulussssss”
dan suara motor yang menderu-deru di jalanan menambah suasana euforia
kebahagian para pemuda tersebut.
Pada saat yang
bersamaan, seperti flashback yang
muncul dalam ingatan 4 tahun yang lalu. Saya tidak ingat pastinya tanggal
berapa, yang saya ingat kelulusan itu terjadi pada tahun 2008 bulan Mei. Suasana
yang dirasakan oleh pemuda tadi juga pernah saya rasakan 4 tahun lalu. Rasa senang
karena dinyatakan lulus dan rasa bingung karena tak tahu harus ke mana setelah
ini pada saat itu.
UN harus saya
akui, menjadi sebuah momok yang sangat ditakuti oleh sebagian besar siswa kelas
3 SMA. Berbagai pikiran jelek menghantui pada siswa saat mereka mulai memasuki
kelas 3, “bagaimana jika saya tidak lulus?” “mau dikemanakan muka ini kalau
saya tidak lulus?”. Galau, itu lah kata yang tepat untuk digunakan untuk para
siswa kelas 3. Berbagai ritual menjelang UN menambah agungnya seperti kita akan
kehadiran Presiden, jadi butuh persiapan khusus agar diberikan kelancaran
mengerjakan Ujian nasional ini.
Mengapa UN
menjadi sangat ditakuti oleh para siswa ? jawabnya karena orangnya sendiri. Sekarang
kita lakukan analogi terbalik. Karena sebelum UN ada beberapa ritual seperti
doa bersama menjelang UN, Spiritual Building sebelum UN, dan masih banyak
lainnya maka kali ini bagaimana jika semua hal tambahan itu tidak dilakukan,
bagaimana jika para pelaku pendidikan menjadikan UN sebagai halnya ujian-ujian
biasa. Tidak ada ketakutan yang begitu tinggi. Dan memotivasi para siswa dengan
perkataan “tenang anak-anak tidak ada yang perlu kalian takuti dari UN ini, UN
ini hanya sebagian kecil dari ujian-ujian yang ada”. Mungkin ini abstrak, tapi
tidak ada salahnya juga untuk dilakukan.
100 % adalah
bilangan yang menjadi keagungan semua sekolah. Jika target 100 % tidak
terpenuhi maka sekolah akan dianggap gagal dan memalukan. Hal inilah yang
menjadikan bagaimana caranya 100 % tersebut harus terpenuhi. Maklum kalau
mental para siswa adalah berorientasi pada hasil bukan pada proses dan selalu
ingin juara tapi tidak bermental juara. Dan itu berimbas pada jenjang
pendidikan selanjutnya. Saat kuliah para mahasiswa mempunyai mental yang
bersaing tapi tidak ada mental untuk saling menghargai.
![]() |
| sumber : febrianhadi.files.wordpress.com |
Sebagian besar
orang belajar untuk ujian, namun sebagian lagi menjadikan ujian sebagai
pelajaran begitu kata teman saya. Ujian bukanlah satu-satunya untuk dikatakan
berhasil, masih banyak kategori lainnya untuk itu. Hasil memang penting, tapi
ada lagi yang jauh lebih penting dari hasil yaitu proses.





