Di suatu bangunan yang tidak ubahnya tempat singgah anak kost pada umumnya. Ada seorang pemuda dengan pikiran kusut yang terpasang di wajahnya. Matahari pun tak mau kalah menambah runyamnya suasana siang itu. Semilir angin berhembus pelan membawa hawa panas lalu begitu saja di sekitar kamar kost – kostan pemuda itu. “Hari ini banyak pasien juga ternyata” ujar pemuda tersebut . Tak lama kemudian, terdengar nada sms yang berisikan “sudah pulang belum ?”. Saat itu juga pemuda tersebut langsung membalas “iya, nanti malam ketemu ya :)”.
Entah mengapa, suasana siang yang panas itu menjadikan pemuda tersebut terbaring di tempat tidurnya. Saat sedang bermalas – malasan di tempat tidurnya. Pemuda tersebut menghadap ke arah meja belajar dan melihat tumpukan kertas yang rapi putih seperti sebuah buku. Saat melihat pertama, pemuda tersebut masih mengabaikan saja tumpukan tersebut. Namun setelahnya entah kenapa pemuda tersebut merasa tergerak untuk menuju meja belajarnya dan melihat tumpukan kertas tersebut. Setelah berada di depan meja belajarnya. Pemuda tersebut langsung melihat tumpukan kertas tersebut dengan mata yang berkaca – kaca. Seperti ada gejolak jiwa yang ada di dalam hatinya. Tumpukan kertas itu berjudul “PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS blaa...blaaaa”. Ya, tepat sekali Karya tulis yang setengah mati dia perjuangkan pada awal praktek kini masih berupa tumpukan kertas tak ubahnya sebuah makalah mata kuliah. Sebuah karya yang belum menjadi tumpukan kertas yang di sampul Hard Cover biru donker dan bertuliskan warna kuning emas. Sebuah karya yang belum bertuliskan ucapan terima kasih sedikut pun kepada siapa – siapa. Hati pemuda itu pun berdesir pelan dan alunan lagu D’masiv yang berjudul Jangan menyerah pun mengiringi lamunan pemuda tersebut.
Tiba – tiba, pemuda tersebut terbangun dari lamunannya karena mendengar seperti ada yang memanggilnya. Dan matanya pun terbelalak ternyata yang memanggilnya tersebut adalah tumpukan kertas yang terjilid tersebut.
KTI : hei boi, kenapa diam ?
Pemuda : benarkah itu kau ? jawabnya dengan heran
KTI : iya betul, Karya tulis yang sudah kau garap hampir 6 bulan ini. Apa kabarmu ?
Pemuda : (masih terperangah) kabar baik, aku masih tidak percaya bahwa kamu (KTI) yang berbicara.
KTI : sudah lah, jangan heran lagi. Ini benar kok bukan mimpi.
Pemuda : (mencoba untuk biasa) kenapa kau berbicara ?
KTI : karena kita sudah lama tidak bertemu, aku terhimpit oleh tumpukan buku-buku bahasa inggrismu yang bergambarkan tulang itu. Untung kamu membereskanya malam tadi, jadi aku bisa dilihat lagi.
Pemuda : oh ya, aku bingung ingin saya apakan kamu itu ?
KTI : kau sudah menyerah boi ?
Pemuda : ya belum lah ...
KTI : hahahaha, sudah – sudah jangan putus asa. Bagaimana praktekmu sekarang ? banyak ketemu teman – teman ya ? ngomong – ngomong juga, kamu praktek dimana ?
Pemuda : Rumah sakit dekat kampus sini kok, ya begitu rame rasanya praktek di RS. Tapi ini sudah bulan ke 6 saya praktek, minggu depan juga sudah ujian akhir praktek di Rumah sakit daerah jebres sana. Lah kamu sendiri bagaimana keadaannya ?
KTI : ya sebenarnya tetap begini saja. Sebenarnya tidak perlu saya jawab kan kamu yang menjadikan saya.
Pemuda : (bengong) oh iya ya, lupa saya bro. Hehehe. Aku mau tanya sesuatu boleh ?
KTI : apa ?
Pemuda : bagaimana rasamu waktu dirimu diberikan tinta hitam maupun merah oleh pembimbing ?
KTI : ya begitu lah, malah saya kasihan sama kamu ?
Pemuda : loh kok malah kasihan sama saya ?
KTI : kasihan karena kamu sudah bekerja semalam suntuk, tapi malah di corat dan dirih diperbaiki lagi. Kamu sedih gak waktu saya di corat –coret oleh pembimbingmu ?
Pemuda : ya lumayan. Lah kamu gimana ? pasti hancur lebur ya perasaanmu ternoda begitu ?
KTI : gak kok (sumringah)
Pemuda : (heran) kok bisa
KTI : sakit iya, tapi tidak sedih. Karena saya tahu saya ini ingin diperbaiki bukan dihancurkan. Sakit bukan berarti sedih tidak mau memperbaiki diri kan ?
Pemuda : pintar juga kamu ya. Hehehe
KTI : yah jelas lah, saya kan terdiri dari beberapa daftar pustaka yang berisi beberapa journal dan penelitian yang terbaru. Iya toh ?
Pemuda : (hening)
KTI : sudah – sudah, jangan sedih lah, benar kata pembimbingmu. Jangan terburu – buru. Yang penting kamu paham dengan apa yang sudah kamu ketik ini.
Pemuda : kamu belajar dari mana ?
KTI : saya mengamati keadaan sekitar, mengamati orang yang membuat saya. Saya percaya kamu bisa menjadikan saya satu bentuk yang utuh. Karena cuma kamu yang mengerti apa yang sudah kamu tulis dan kamu susun dalam diri saya. Teman – temanmu boleh memberikan motivasi, tapi kuncinya ada pada yang kau pegang boi.
Pemuda : (tersenyum simpul)
Allahu akbar allahu akbar........ Adzan ashar pun berkumandang dan pemuda tersebut terbangun dari tidurnya. Nada sms hape pun berbunyi “bro, kapan sidang ?” . dengan senyum simpul di jawab “tanyakan dengan KTIku ya mungkin dia tahu jawabannya”.
Ini ceritaku, apa ceritamu.................... :)
*) cerita ini sudah saya postkan tahun 2011 pada bulan juli melalui facebook
Tidak ada komentar:
Posting Komentar