Baru saja kita memiliki finalis baru liga champions musim
ini. Chelsea dan Bayer Muenchen akan bertemu di Allianz Arena pada pertengahan
bulan Mei tahun ini. Pada laga semifinal kemarin, ada banyak kisah menarik yang
bisa saya ambil. Semua orang berprediksi el-classico akan terjadi pada final
champions tahun ini. Semua media, mahasiswa, dan para pengamat bola amtiran yang
berada di beberapa angktingan membicarakan hal ini. Namun, justru hal
kebalikannya lah yang terjadi. Semua terjadi di luar dugaan. Banyak fans fans
kedua tim yang tidak lolos merasa kecawa dengan hasil yang terjadi. Dua laga
yang disajikan menceritakan kisahnya sendiri-sendiri.
Laga pertama antara chelsea dan barcelona. Barcelona
merupakan kandidat juara paling kuat tahun ini. Permainan yang konsisten dan
menarik penonton, menjadikannya pertandingan yang dilakukan oleh barcelona
selalu ditunggu oleh penonton. Kemenangan 1-0 oleh chelsea atas barcelona
menganggu kosentrasi para pemain. Namun, euforia tetap ada pada pertandingan
selanjutnya. Camp nou yang dianggap angker bagi para lawan, ternyata tak cukup
mampu menghantui para pemain chelsea. Dan lagi-lagi hasil yang terjadi berbeda.
Barcelona tidak kalah dari chelsea, barcelona hanya imbang 2-2 dengan chelsea. Tapi
gol tandang oleh Drogba pada pertandingan sebelumnya menghantarkan chelsea ke
final. Dan istilah kemenangan bukan lah segalanya berlaku pada pertandingan
ini.
Laga kedua juga berlangsung sama hanya berbeda dengan skor
saja. 2-1 merupakan hasil untuk kedua tim pada kedua laga yang berlangsung. Dan
yang layak ke final ditentukan oleh lewat adu penalty. Dan akhirnya bayern lah
yang menang. Lagi-lagi para madritista kecewa dengan hasil yang ada. Kemenangan
bukanlah segalanya lagi –lagi berlaku untuk partai ini.
Barca dan madrid mempunyai segalanya, tim yang kuat, pelatih
yang hebat, permainan yang atraktif, tapi semua modal itu tidak mampu
membawanya ke partai puncak. Barcelona yang selalu menang “tidak terbiasa”
dengan kekalahan yang di deritanya. Teman saya Ginjar Ribut Pratama berbicara
dengan saya saat elclasicco, “pertandingan ini bakal mempengaruhi semifinal
nanti pik” ujarnya. Dan benar terjadi walaupun tidak sepenuhnya benar. Barca yang
mengalami kekalahan pada elclasico mengalami sedikit “gangguan” pada
pertandingan melawan chelsea. Dan madrid walaupun menang tapi mempunyai nilai
nihil untuk ke final.
Mungkin ada alasan lain sehingga chelsea dan bayern mampu
berada di final. Barca dan madrid yang terlalu di agung-agungkan dalan juara
menjadi sedikit “lalai” dan terlena dalam pertandingan yang ada. Sedangkan chelsea
yang baru ditinggalkan AVB dan berganti pelatih oleh Di Matteo menjadi tidak
diunggulkan dalam UCL kali ini. Namun, justru itu yang menjadi penyemangat bagi
mereka, menjadi yang “tersisihkan” tidak menjadi penyurut malah kebalikannya. Dan
bagi Bayern, tampil di Allianz Arena adalah alasan terkuat mereka harus ngotot
tampil di final kali ini. Ibarat orang yang ingin show up di kampung halaman
sendiri. Dan hal ini sah sah saja kalau dijadikan penyemangat bagi mereka. Ada satu
hal yang menarik bagi saya saat bayen melawan madrid kemarin. Saat Bayern
ketinggalan 0-2, ada gesture dari
Robben kepada rekan-rekannya. “tenang kawan, kita harus tetap pada permainan
kita. Mereka telah unggul, tapi bukan berarti mereka menang” begitulah yang
saya tangkap dari gesture tubuh
Robben. Dan benar, mereka mampu menang dari Madrid.

Dalam kehidupan sehari-hari menjadi yang tidak dipandang
adalah suatu fenomenal yang wajar. Menjadi keasyikan tersendiri bagi
orang-orang yang tidak terlalu diunggulkan. Menjadi tidak diunggulkan bukan
berarti orang tersebut lemah dan hina. Tapi pasti ada kelebihan yang tidak
dimiliki oleh orang lainnya. Telah banyak orang di dunia ini yang membuktikan
dirinya bahwa mereka adalah unggulan padahal awalnya adalah orang yang sama
sekali tidak diunggulkan. Dan kawan, victory and excellence is not everything
Tidak ada komentar:
Posting Komentar