Selasa, 29 Mei 2012

100 % dan konsekuensinya


sumber : DEPAG SUMSEL
Sore itu sabtu 26 Mei 2012 pukul 15.30. Waktu itu saya lagi istirahat kuliah sore untuk sholat ashar. Waktu lewat di M. Djazman, puluhan siswa berbaju putih abu-abu yang sudah dicorat-coret warna warni lewat di hadapan kami. Kaget saya, ada apa gerangan para siswa ini. Ternyata baru sadar, hari itu adalah pengumuman kelulusan Ujian Nasional (UN) serentak di seluruh Indonesia. Rona kebahagian muncul di hadapan para siswa tersebut bak tentara yang baru saja memenangkan perang besar melawan musuhnya selama ini. Dengan suara lantang “aku lulussssss” dan suara motor yang menderu-deru di jalanan menambah suasana euforia kebahagian para pemuda tersebut.

Pada saat yang bersamaan, seperti flashback yang muncul dalam ingatan 4 tahun yang lalu. Saya tidak ingat pastinya tanggal berapa, yang saya ingat kelulusan itu terjadi pada tahun 2008 bulan Mei. Suasana yang dirasakan oleh pemuda tadi juga pernah saya rasakan 4 tahun lalu. Rasa senang karena dinyatakan lulus dan rasa bingung karena tak tahu harus ke mana setelah ini pada saat itu.

UN harus saya akui, menjadi sebuah momok yang sangat ditakuti oleh sebagian besar siswa kelas 3 SMA. Berbagai pikiran jelek menghantui pada siswa saat mereka mulai memasuki kelas 3, “bagaimana jika saya tidak lulus?” “mau dikemanakan muka ini kalau saya tidak lulus?”. Galau, itu lah kata yang tepat untuk digunakan untuk para siswa kelas 3. Berbagai ritual menjelang UN menambah agungnya seperti kita akan kehadiran Presiden, jadi butuh persiapan khusus agar diberikan kelancaran mengerjakan Ujian nasional ini.

Mengapa UN menjadi sangat ditakuti oleh para siswa ? jawabnya karena orangnya sendiri. Sekarang kita lakukan analogi terbalik. Karena sebelum UN ada beberapa ritual seperti doa bersama menjelang UN, Spiritual Building sebelum UN, dan masih banyak lainnya maka kali ini bagaimana jika semua hal tambahan itu tidak dilakukan, bagaimana jika para pelaku pendidikan menjadikan UN sebagai halnya ujian-ujian biasa. Tidak ada ketakutan yang begitu tinggi. Dan memotivasi para siswa dengan perkataan “tenang anak-anak tidak ada yang perlu kalian takuti dari UN ini, UN ini hanya sebagian kecil dari ujian-ujian yang ada”. Mungkin ini abstrak, tapi tidak ada salahnya juga untuk dilakukan.

100 % adalah bilangan yang menjadi keagungan semua sekolah. Jika target 100 % tidak terpenuhi maka sekolah akan dianggap gagal dan memalukan. Hal inilah yang menjadikan bagaimana caranya 100 % tersebut harus terpenuhi. Maklum kalau mental para siswa adalah berorientasi pada hasil bukan pada proses dan selalu ingin juara tapi tidak bermental juara. Dan itu berimbas pada jenjang pendidikan selanjutnya. Saat kuliah para mahasiswa mempunyai mental yang bersaing tapi tidak ada mental untuk saling menghargai.

sumber : febrianhadi.files.wordpress.com
Sebagian besar orang belajar untuk ujian, namun sebagian lagi menjadikan ujian sebagai pelajaran begitu kata teman saya. Ujian bukanlah satu-satunya untuk dikatakan berhasil, masih banyak kategori lainnya untuk itu. Hasil memang penting, tapi ada lagi yang jauh lebih penting dari hasil yaitu proses. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar